Jalan Panjang Menurunkan Berat Badan

Menurunkan Berat Badan

Menurunkan berat badan bukan perkara mudah. Diperlukan tekat kuat dan semangat pantang menyerah. Yang terpenting, kenali akar masalahnya.

Bukan sekali dua kali Adhi, karyawan disebuah kantor di Jakarta, berusaha menurunkan berat badan. Berbagai cara dia coba. Mulai berusaha mengatur pola makan, tetapi tidak aktif berolahraga, atau sebaliknya aktif berolahraga tetapi pola makannya tetap kacau. “Semua itu tidak memberi hasil seperti yang saya harapkan,” ungkap Adhi. Timbangan badannya bergeming dikisaran 71,2 kilogram.

Oktober 2014 yang lalu, secara kebetulan kantornya mengadakan Program Wellness Revolution selama 66 hari. Program ini memang untuk karyawan yang memiliki kelebihan berat badan atau obesitas. Adhi pun tidak melewatkan kesempatan itu. “Saya masuk kategori kelebihan berat badan hingga 8 kg sampai 10 kg,” tutur Adhi.

Dari program itu, ia mendapatkan dua kunci utama untuk menurukan berat badan, olahraga teratur dan mengatur pola makan. Dia memilih olahraga berenang karena olahraga ini memang sangat ia kuasai. “Saya menetapkan tekat saya, berenang rutin 3-4 kali seminggu,” kata Adhi yang juga melakukan olahraga yang dianjurkan, seperti sit-up, push-up, dan plank.

Adhi juga muali mengatur pola makan. Pagi hari, ia mengkonsumsi buah-buahan, seperti pisang, mangga atau apel, telor rebus dan yoghurt. Kadang dia juga mengkonsumsi lemper atau ketan. “Saya sudah menyatakan ‘tidak’ pada semua jenis makanan yang digoreng. Saya tidak lagi menyentuh gorengan yang tersedia,” ujarnya.

Pada siang hari, Adhi lebih banyak makan sayuran dah buah-buahan, dang secara bertahap mengurangi nasi. Dia memilih sayur bayam bening atau sayur asem atau capcai. Pada akhir pekan, ia biasa memesan menu ikan, seperti salmon panggang atau ikan dori, dengan kentang rebus. Ia juga lebih banyak minum air putih daripada minuman bergula dan bersoda. Intinya, Adhi mengatur agar jumlah kalori yang masuk ketubuh setiap hari tidak melebihi kebutuhan kalori per hari sebesar 1.500. Angka itu ditetapkan saat mengikuti program Wellness dari kebutuhan sebesar 2.000 kalori.

“Saya mencatat semua makanan yang saya makan melalui aplikasi “MyfitnessPal”,” ujarnya. Dalam aplikasi yang bisa di unduh di gawai dengan sistem operasi Android dan iOS ini dicantumkan berbagai jenis makanan dengan takaran kalorinya. Hasilnya, pada hari ke-22, berat badan Adhi turun 1,9 kg menjadi 69,2 kg. Pada hari ke-44, beratnya turun lagi menjadi 67 kg, dan pada hari ke-66, beratnya menjadi 63,3 kg.

“Ini berarti dalam 66 hari , berat badan saya turun hampir 8 kilogram. Lingkar pinggang saya berkurang 14 cm.”

Meneror kesadaran

Sedikit berbeda denga Adhi, Imam yang juga menjadi peserta program yang sama dengan Adhi. Pada awalnya sempat gamang dengan apa yang harus dilakoni untuk menurunkan berat badan. Saat memasuki ruang pelatihan, Imam merasa diajak melakukan hal yang tidak mungkin.

“Saya mencoba tidak membantah apa yang dikatakan instruktur meski beberapa logikanya menurutku ada yang terdengan tidak masuk akal. Misalnya, apa iya tiap makan harus memikirkan jumlah kalori yang dimakan,” ungkap Imam.

Dia merasa berat dengan instruksi makan nasi hanya setengah kepalan tangan dan daging yang hanya sepanjang tiga ruas jari dengan lebar tiga jari. “Tapi, akhirnya lebih baik aku membuka diri pada sejumlah saran yang menurut instruktur dapat dilakukan semua orang itu,” kata Imam.

Berbagi hal yang disampaikan instruktur diakui Imam cukup meneror kesadaran untuk sehat. Salah satu agar sebelum usia 50, sebaiknya kondisi fisik sudah fit sehingga dapat menjalani usia separuh baya dengan sehat agar masih bisa memberi pendampingan dan bimbingan kepada anak-anak.

“Akhirnya yang pasti, setelah pelatihan itu seakan-akan isi kepala diteror dengan asupan kalori. Setiap makan kue sepotong, atau makan lemper, langsung saja kalkulator kalori di otak menghitung sudah makan 100 kalori,” kata Imam,

Meski demikian, dia senang karena dia bebas memilih olahraga atau gerak yang dia senangi untuk dilakukan Imam kemudian mencoba berolahraga 150 menit seminggu yang dibagi dalam 3 hari. Dia mengikuti kompetisi half marathon dan berhasil mendapat medali finisher dengan catatan waktu 2 jam 39 menit. “Ini luar biasa karena sebelumnya aku enggak pernah ikut maraton. Jangankan yang half marathon, yang 5 km dan 10 km saja aku enggak pernah ikut,” kata Imam

Hasilnya, dalam dua bulan berat badan tubuhnya turun 9 kg, dari 97 kg menjadi 88 kg. Lingkar perut berkurang 4 cm, dari 100 cm menjadi 96 cm. Kini dia memakai celana jins ukuran 34, padal sebelumnya ukuran 38.

Sembuhkan akarnya

Konsultan penurun berat badan dari Klinik Lighthouse, dr Grace Judio, menuturkan, upaya menurunkan berat badan dengan mengatur pola asupan kalori dan olahraga sudah tepat. Sebab, defesit 7.000 kalori akan mengurangi berat badan hingga 1 kg.

Oleh karena itu tahap awal proses penurunan berat badan dilakukan dengan mengurangi asupan kalori yang masuk kedalam tubuh. Caranya dengan melakukan perencanan makanan (meal planning) atau mengatur banyaknya jumlah kalori. “Bisa dengan menghafalkan banyak kalori pada makanan, membaca buku, atau melihat panduan,” kata grace, yang juga konsultan untuk obestitas dan bulimia dan anoreksia.

Akan tetapi, dikatakan Grace, menurunkan berat badan sama halnya dengan menurunkan demam. Sebagimana demam yang merupakan gejala suatu penyakit, berat badan pun demikian. “Berat badan adalah gejala dari sesuatu. Kalau akarnya tidak disembuhkan, bisa kumat lagi,” kata Grace, yang juga melakukan terapi perubahan perilaku pada anak dan orang dewasa.

Kunci menyembuhkan masalah berat badan adalah kontrol diri ketika berhadapan dengan makanan. Meski demikianm Grace mengatakan, solusi bagi upaya penurunan berat badan tidak pernah tunggal.

“Setiap oirang juga harus tahu resiko apa yang dihadapi dari upaya yang dilakukan. Belum tentu penyakit, tetapi resiko seperti misalnya orang yang sudah turun berat badan, berat badannya akan lebih cepat naik,” papar Grace. (KOMPAS)

Leave A Comment...